Advertisement
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Home arrow Articles arrow Choosing Your Life Partner
Choosing Your Life Partner E-mail
Written by Dr. John Chambers   
Monday, 09 August 2004
This is a summary of presentation brought by Dr. John Chambers in ICF Minneapolis October 10, 1998. It covers the issue of singleness up to the preparation for marriage. Good read for youngsters!

Title: Choosing Your Life Partner
Speaker: Dr. John Chambers
Date: Oct, 10 1998
Source: ICF Minneapolis Choosing Your Life Partner

Introduction Pilot illustration: it needs preparation and exercise, otherwise there will be a disaster and many casualties. Dalam memilih pasangan hidup kita sering tembak dulu, baru pikir kemudian. Kalau sudah "fall in love" sudah sulit untuk berpikir obyektif. Pasangan hidup harus dua-duanya dalam konteks citra Allah, saling mendorong untuk melayani Tuhan. Jadi perlu tahu konteks dan arti pelayanan. Dengan mengikuti prinsip-prinsip hidup yang benar di mata Tuhan, itu akan berguna untuk:

  • Pribadi kita sendiri dan keluarga kita
  • Menjadi berkat bagi orang lain
  • Nama Tuhan dipermuliakan
  • Ini berlaku untuk sebaliknya jika tidak mengikuti prinsip-prinsip yang benar.
  1. Need to know who I am (see topic: Singleness).
    We are saved to serve. Arti dalam mencari pasangan hidup adalah memenuhi panggilan tersebut. Ini yang akan menjadi visi hidup, yaitu "to build a life, not to find self-satisfaction."
  2. Whose will do I want?
    Apakah aku mau menyerahkan hidupku untuk Tuhan dalam hidup pribadiku, dalam pernikahan, dan dalam rumah tangga? Ini artinya hidup yang tidak dikuasai oleh sifat keakuan. Ini dicapai melalui proses, tidak bisa instant. Ini bukanlah keputusan yang berdasarkan emosi sesaat saja, tapi adalah kemauan, attitude of heart and mind and it becomes a habit of leaving. Sifat keakuan ini ibarat semak liar yang selalu tumbuh setelah dipangkas. Keakuan ini perlu selalu dibabat terus, hari demi hari. Kita perlu untuk tunduk dihadapan Tuhan. Selama kita masih bernafas, keakuan (the desire of the flesh) itu akan selalu ada. Keputusan meninggalkan sifat keakuan itu akan menentukan sikap dan aspek kehidupan kita. Setalah hubungan vertikal dengan Tuhan benar, hubungan horisontal (dengan sesama dan lingkungan) akan beres juga. Ibarat ban mobil, kalau ada satu lubang saja, seluruh ban akan kempes. Hanya 1 aspek saja dalam kehidupan kita jatuh, seluruh hidup kita akan terpengaruh dan menerima dampaknya (keinginan ber-fellowship hilang, kerinduan untuk mencari Tuhan hilang). Kita musti sadar kalau Iblis sangat tahu kelemahan kita. Kita musti tahu cara kerja Iblis yang sangat lihay. Dengan mempunyai sikap hidup yang lurus, hidup kita akan semakin tenang, dan hidup dalam pergaulan akan semakin efektif. Kita akan mempunyai hati yang bebas dalam melayani tanpa ada "guilt." The only reason for a "Boy Girl Relationship (BGR)" is that for marriage. Hidup kita bukan milik kita, tapi milik Tuhan. Hidup tidak untuk mencari kepuasan sendiri. I need to know who I am and my identity as a child of God. Now, if I am ready, what kind of person is suitable for me?
  3. Setting the Standards - a partner profile (sama-sama anak Tuhan & watak)
    Ini perlu dilakukan sebelum mulai berpacaran. Illustrasi 2 orang mendaki gunung, yang di atas akan berat untuk menarik yang di bawah karena ada pengaruh gaya gravitasi bumi. Tapi yang di bawah akan lebih mudah untuk menarik yang di atas untuk jatuh. 7 areas of similarity which form a strong basis for marriage:

    Spirituality
    Common vision/goals/ideals
    Common cultural/social/ethnic backgroud
    Common intelligence and education
    Common interests and hobbies
    Common views of handling money
    Common view in home-building and child-rearing, and roles of husband and wife
    7 areas above are not absolute, but it is an evaluation for leading to a right direction. However, both are believers in Christ is absolute. Light and dark can not come together.
  4. "Waiting" - (positive attitude, not hunting)
    Waiting ini adalah langkah selanjutnya setelah menyerahkan masa depan kita ke Tuhan dan mempunyai konsep dasar (know who I am). Waiting jangan diartikan sebagai sikap yang negatif yang tidak mau berbuat apa-apa, tapi sikap yang bersabar menunggu dihadapan Tuhan, tidak terpengaruh oleh lingkungan. Banyak tekanan dari luar kita, orang lain mendorong kita untuk mencari pasangan (sometimes those pressures are not in God\'s will, and therefore we have to be strong to reject them). Tekanan dari orang tua akan lebih berat. Sikap saya terhadap orang tua. Aku musti jauh-jauh hari menjalin komunikasi yang baik dengan mereka untuk menunjukkan bahwa aku care, obey, love, dan respect mereka as they are God\'s gift for me. Sometimes it takes years to have a good communication with them. I need to show them my faith, and gain respect from them, too. Itu adalah tanggung jawab saya sebagai seorang anak kepada orang tua. Dengan demikian, pada saat aku membicarakan mengenai suatu hal, mereka tidak tersinggung, marah, dll. It is very important to build trust and communication in my relationship with my parent. Tunjukkan kepada mereka apa yang aku lakukan selama di US, aktifitas-aktifitas ku, dll. I need to share my live while I am here in US that they may see that I am not the same person as I was in Indonesia. (can not make decision, childish, not growing, etc) Pria musti yang ambil inisiatif dalam BGR. Jika tidak:

    Dalam rancangan Tuhan akan pernikahan, pria adalah kepada keluarga. Kalau dari permulaan wanita yang mengambil inisiatif dahulu, akhirnya bisa kacau karena awalnya sudah terbalik. Nanti istri yang akan menjadi kepala keluarga, bukannya suami.
    Demonstrate disregard for Scripture to other people. It is a misleading role model. It becomes a stumbling block to others.
    In BGR, there is always tempation for sexual immorality. Kalau pada mulanya wanita yang kejar pria, dan pria ingin melakukan sexual immorality, wanita yang takut kehilangan si pria akan takut dan sulit untuk bilang "No." Ini sering terjadi dalam mahasiswa-mahasiswa, akibatnya akan fatal.
  5. "Falling in Love"
    Banyak orang berpikir kalau udah falling in love, semuanya sudah not under my control any more, I just follow my emotion to this relationship (kalau sudah terlanjur cinta mau diapakan lagi? Ya udah, terusin aja). Ini adalah pandangan yang salah. Sikap yang demikian adalah bertentangan dengan fruit of the Spirit (Gal 5:22-23): self-control. Bagaimana sebetulnya sikap kita, apakah mau hidup kita di kontrol oleh Roh Kudus (Spirit filled), bukannya dikontrol oleh keinginan diri sendiri. Perlu evaluasi diri, films macam apa yang kita tonton. Majalah macam apa yang kita baca. Perkataan dalam pergaulan macam apa yang kita keluarkan. You reap what you sow. Untuk menyerahkan diri kepada Tuhan secara penuh membutuhkan usaha yang banyak, karena sikap keakuan akan selalu ada. Phil 4:8, jangan juga hanya bertindak: saya tidak mau memikirkan atau melihat pornography atau hal-hal yang jahat di mata Tuhan. Tetapi pikiran kita perlu dipenuhi dengan pikiran seperti yang tertulis di Phil 4:8. Kita tidak bisa biarkan pikiran kita kosong dengan satu hal dan tidak diisi dengan hal lain. Kalau dibiarkan kosong akan berbahaya karena adanya kedagingan dalam manusia.
  6. Courtship - Priorities and Discipline.
    Jangan mendewakan pasangan kita. Tuhan tetap nomor satu. Dua belah pihak perlu tahu kelemahan masing-masing dan mempunyai pengertian yang benar tentang "who am I?" dan disiplin dalam setiap aspek kehidupan agar Tuhan yang dipermuliaakan melalui hubungan mereka. "Kebenaran" Hollywood : love = physical relationship = go to bed.
  7. Long Distance Relationship (LDR) and other problems.
    Perlu serahkan partner kita ke Tuhan dan anggap sebagai suatu kesempatan bahwa LDR adalah untuk mengetest hubungan tersebut dan pakai untuk belajar berkomunikasi lewat surat, e-mail, maupun telepon. Belajar mengekspresikan perasaan lewat tulisan dan suara. Ini adalah pelajaran yang penting untuk berkomunikasi. Dampaknya akan baik, learn to share, express concerns and feelings, and learn to communicate. Bisa juga belajar untuk build trust, and not be jealous. LDR baik untuk menjaga supaya hubungan tidak terlalu banyak physical contact.
  8. Preparing for Marriage.
    Belajar dulu dari sekarang, jangan setelah menikah baru belajar. Baca buku, cari konsel. Perlu belajar tentang kepribadian diri sendiri dan si dia, belajar background keluarga si dia. Jangan berpikir: how I can change him/her. Persiapan harus dimulai dari sudut pandang pribadi (persiapan pribadi). Apa arti cinta kasih yang sebenarnya? Yaitu mencari yang terbaik untuk pasangan kita. Give the best for him/her; not getting what I want, but to sacrifice and to serve.
 
< Prev   Next >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
Joomla Template by Joomlashack
download components joomla modules free joomla templates