Advertisement
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Home arrow Articles arrow Pelajar Kristen
Pelajar Kristen E-mail
Written by Jeffri Massie   
Monday, 09 August 2004
Artikel ini diambil dari archive ICF Columbus (dibawakan oleh Jeffri Massie, 1997) dan membahas bagaimana kita mengintegrasikan kehidupan kekristenan (misalnya pertumbuhan rohani dan pelayanan di ICF) dengan pelajaran di kampus. Mungkin banyak dari kita yang terjepit dan merasa kedua dunia ini (kehidupan kekristenan dan kehidupan kampus) bertolak belakang dan masing-masing compete for our attention. Artikel ini sangat bagus dan menawarkan suatu framework cara berpikir yang integratif akan tugas kita sebagai pelajar dalam identitas kita sebagai seorang Kristen.
Title: Christians as Students
Date: March 15, 1997
Source: ICF Columbus
By: Jeffri Massie Christians as Students
ICF-Columbus Fellowship
by Jeffri Massie
Saturday, March 15, 1997


Tujuan Pembahasan:
Mengintegrasikan kehidupan kekristenan di dalam kehidupan kampus. Diharapkan setelah mendengar pembahasan ini, saya dan teman-teman lainnya mengerti identitas utama kita sebagai seorang Kristen yang telah dibeli oleh Yesus Kristus dan merekflesikan identitas ini dalam peran kita sebagai pelajar Kristen.

Kalimat Christians as Students menunjukkan identitas Kristen yang utama, yang mendasari kehidupan kita sebagai Students. Hal ini berbeda dengan Students as Christians, yang seolah-olah menggambarkan Kekristenan sebagai sebagian dari aspek-aspek kehidupan pelajar.

Sungguh mudah anda dan saya memisahkan dua ‘identitas\' ini dalam kehidupan sehari-hari. Sering kita menganggap bahwa kehidupan di weekend adalah waktu kehidupan sebagai orang Kristen, sedangkan pada waktu weekdays sebagai waktu hidup sebagai pelajar saja. Ini terpancar dari perbedaan yang orang saksikan dalam kehidupan kita.
Hidup sebagai milik Tuhan
Biasanya dwi identitas ini terjadi karena kita tidak menyadari bahwa seluruh aspek kehidupan kita, (bukan hanya jiwa) telah dibeli dan ditebus oleh Yesus Kristus pada waktu kita menyatakan Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan kita. Kita sering menganggap bahwa pada hari Minggu kita hidup sebagai milikNya, sedangkan pada waktu weekdays, hidup menurut kemauan kita sendiri.

Para malaikat bernyanyi dalam Wahyu 5:9
"Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."

Hidup kita ini sudah bukan milik kita lagi. Galatians 2:20
"namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam ku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."

Roma 14:7-9
"Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup."


Bertanggung jawab atas talenta

Saya percaya kita para mahasiswa di Amerika ini diberikan talenta (tanggung jawab) yang besar. Umumnya kita diberi kelimpahan materi, pendidikan yang berkualitas, pengaruh yang besar pada masyarakat di sekitar kita. Karena kita sudah menjadi manja dan terbiasa dengan kemewahan itu semua, kita jadi cenderung take it all for granted. Setahu saya, hanya 2 persen dari masyarakat Indonesia yang mampu membiayai pendidikan di perguruan tinggi. Sebagian kecil darinya mendapat kesempatan untuk belajar langsung dari profesor-profesor yang ahli dalam bidangnya di Amerika. Padahal Tuhan memberi talenta sekaligus dengan tanggung jawab untuk menggunakannya dan menghasilkan buah.

Matius 25:14-15
"14Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
15Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat."
Pada waktu saya mempelajari hal ini, saya merasa tertegur karena kekurangseriusan saya dalam menggali pendidikan yang berkualitas ini. Misalnya dengan beberapa kali skip kelas atau terlambat karena terlambat bangun dan memakai waktu belajar secara tidak efektif.


Mencari The Whole Truth
Rick Kennedy menyatakan dalam bukunya "Faith at State - A Handbook for Christians at Secular Universities" tujuan seorang Kristen di universitas. Yaitu untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (Matius 6:33), dan untuk mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan, serta mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Markus 12:30).

Dalam bukunya, ia menyatakan bahwa kebanyakan universitas di Amerika memulai pondasinya berdasarkan Kekristenan.

  • Motto Harvard University waktu didirikan adalah In gloriam Christi ("for the glory of Christ"), dan Veritas ("truth").
  • Seal dari Indiana University menyatakan lux et veritas ("light and truth").

Universitas adalah pemberian Tuhan bagi manusia, di mana kita mencari kebenaran untuk kemuliaan Tuhan. Serta untuk mewujudkan kasih kita terhadap Allah dan manusia di dalamnya. Menyadari pemberian yang besar ini, selayaknya kita menggunakannya dengan sungguh-sungguh. Kita membaca textbooks, mendengar lectures, mengerjakan homeworks, menyusun papers dengan bertanggung jawab kepada Tuhan agar kemudian menghasilkan buah-buah untuk kemuliaanNya.

Tentunya kita tidak menemukan kebenaran yang utuh bila kita hanya mengukurnya sebatas dari GPA di transcript tanpa mempelajari dan mewujudkan kasih terhadap Allah dan kasih terhadap manusia. GPA yang tinggi mungkin menunjukkan dalamnya knowledge yang kita miliki, tetapi tidak berarti jaminan dalamnya Wisdom kita. Kita melihat bahwa banyak orang pintar yang tidak bijaksana. Biasanya seseorang yang begitu pintar dalam profesi atau bidang studinya tetapi tidak memancarkan kasih dan kebijaksanaan

Rasul Paulus seorang yang sangat pintar dan rohani berkata dalam I Korintus 13:1-3,
"1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. 2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna."

Seorang pelajar Kristen yang mendapatkan GPA yang baik dengan jalan menyontek Ulangan, menyontek Papers, menyalin Homeworks, tidak mendapatkan knowledge, seorang pelajar Kristen yang sungguh-sungguh mengejar knowledge tanpa kasih terhadap Allah dan manusia, tidak menemukan Wisdom, tetapi menemukan kesia-siaan.

Firman Tuhan dengan jelas membedakan akal budi dan kebijaksanaan dalam Ulangan 4:5-6 ketika Musa menasehati bangsa Israel untuk memelihara hukum Allah:
"Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh Tuhan, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi."

Menurut Rick Kennedy, "Wisdom is the ability to make decisions that lead to a better life, a better society, a better world."


Tanggung jawab seorang pelajar Kristen sebagai garam dan terang dalam kehidupan kampus

Sungguh sayang ternyata universitas yang mulanya dibangun untuk memuliakan Tuhan dan mencari kebenaranNya kemudian melupakan tujuannya. Banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaranNya ditawarkan kepada mahasiswanya. Kebenaran yang ditawarkan pun tidak lagi utuh dengan kasih di dalamnya. Universitas beserta anggotanya mulai kehilangan tujuan mulianya dibutakan oleh kegelapan. Siapakah yang bisa memberinya terang?

Kecurangan terjadi di mana-mana, gosip merusak pikiran dan hubungan antara mahasiswa, kebencian dan dendam merajalela di antara mahasiswa, keangkuhan menguasai hati anggotanya. Kebusukan mengerogoti wadah yang dimaksudkan untuk memuliakan Tuhan ini. Siapakah yang bisa mencegah kebusukan ini?

Matius 5:13
"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang."

Yesus, Tuhan kita mengajarkan sebuah kebenaran bahwa kita adalah garam dunia yang ditugaskan memberi dampak dalam dunia yang membusuk ini. Kehidupan kita di dalam kampus haruslah mencegah terjadinya bentuk-bentuk kebusukan di atas dan menjaga kemurnian garam kita sendiri, sebab Yesus mengatakan "Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang."

Garam mempunyai sebuah sifat khusus. Menurut ilmu kimia, sodium khlorida adalah suatu senyawa kimia yang stabil, yang kebal terhadap hampir setiap serangan. Namun demikian, jika tercemar karena tercampur dengan kotoran, maka ia akan menjadi tidak terpakai, malahan berbahaya.

Matius 5:14-16
"Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Yesus juga mengatakan dalam Yohanes 8:20, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." Kota yang terletak di atas gunung menggambarkan kerajaan Allah di dunia ini. Kerajaan ini, yaitu orang-orang Kristen yang hidup bersama Rajanya Tuhan Yesus Kristus disorot kehidupannya oleh dunia ini. Orang yang menyalakan pelita menggambarkan Tuhan Yesus sebagai Terang Dunia yang memberi terang pada anak-anakNya. Dan Ia tidak menyembunyikan kehidupan pelajar Kristen ini dalam gedung gereja atau ruang fellowship, tetapi menempatkannya di tempat yang kelihatan dan strategis sehingga terang Tuhan bercahaya di depan orang-orang. Orang-orang ini kemudian melihat perbuatan terang pelajar Kristen yang baik dan memuliakan Bapanya di sorga, sumber terang itu.


Pertanyaan:
"Kapan kita tahu bahwa kita sebagai Christians as Students atau Students as Christian?
Yaitu pada waktu kita dihadapkan pada pilihan. Mengutamakan kepentingan Students yang biasanya demi GPA, atau membela kekristenannya?
 
< Prev   Next >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
Joomla Template by Joomlashack
download components joomla modules free joomla templates